BERITA
26 Jan 2026 | 24 Dilihat | Kategori Berita: Keberlanjutan
Setiap detik sebuah truk sampah besar penuh pakaian dibuang atau dibakar di seluruh dunia, itu bukan cerita fiksi, melainkan fakta industri tekstil global di era sekarang. Angka ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri fashion dan tekstil dalam mengelola limbahnya secara berkelanjutan.
Yuk, cek data terbaru dan faktanya agar kita sama-sama paham apa yang sedang terjadi dan bagaimana arah perubahannya.

Limbah tekstil adalah sisa bahan, pakaian, atau produk tekstil lain yang tidak lagi digunakan atau diproduksi dalam proses pembuatan pakaian dan barang tekstil lainnya. Limbah ini berasal dari dua sumber utama:
Menurut Kompas, industri tekstil dan fashion menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah setiap tahunnya secara global. Sebagian besar dari limbah ini berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar.
Mengapa angka ini besar?
Sayangnya, kurang dari 1% limbah tekstil di dunia didaur ulang menjadi bahan serat baru, yang menunjukkan masih ada ruang besar untuk inovasi pengelolaan.
Menurut laporan pemerintah dan lembaga terkait, limbah tekstil di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2,3 juta ton per tahun saat ini. Jika tidak ada intervensi dan perubahan model produksi serta konsumsi, angka ini bisa naik signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Indonesia termasuk negara yang mulai memperhatikan isu ini, tetapi masih menghadapi tantangan infrastruktur pengelolaan dan daur ulang limbah. Meski begitu, berbagai kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga internasional kini sedang digalakkan untuk mendorong ekonomi sirkular di sektor ini, sesuai yang dilansir GGGI.
Baca juga: Sampah Fashion Menggunung! Bagaimana Indonesia Menangani Limbah Pakaian?
Limbah tekstil yang tak terkelola dapat mencemari tanah dan air, terutama karena banyak serat sintetis yang tidak mudah terurai di alam dan dapat menjadi sumber mikroplastik di lingkungan.
Produksi pakaian memerlukan sumber daya besar, seperti air dan energi. Limbah yang dihasilkan berarti sumber daya tersebut terbuang tanpa memberi nilai tambah lebih lanjut.
Kini banyak pabrik tekstil di Indonesia yang meningkatkan praktik produksi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Fokusnya bukan sekadar efisiensi produksi, tetapi juga pengurangan limbah dan penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan. Misalnya:
Kerja sama lintas sektor, termasuk Pemerintah, perusahaan tekstil, asosiasi industri, dan komunitas, semakin aktif membangun program pelatihan, inovasi teknologi, serta kedai daur ulang tekstil untuk memaksimalkan nilai dari limbah.
Seiring berkembangnya teknologi, pengolahan dan pemrosesan limbah tekstil menjadi bahan baru, termasuk sorting otomatis, pemetaan limbah, dan teknik daur ulang lanjutan yang semakin cepat dan efisien. Ini membuka peluang ekonomi baru sekaligus membantu mengurangi jumlah limbah yang dibuang.
Kami percaya kesadaran Anda sebagai konsumen sangat penting. Pilihan Anda untuk mendukung produk dengan desain berkualitas dan strategi penggunaan panjang dapat mengurangi jumlah limbah tekstil yang dihasilkan setiap tahunnya.

Limbah tekstil merupakan isu besar dengan dampak luas, dari lingkungan hingga ekonomi. Data terbaru memperlihatkan bahwa industri dunia menghasilkan puluhan juta ton limbah setiap tahun, namun masih sangat sedikit yang didaur ulang menjadi bahan baru.
Di Indonesia sendiri, limbah tekstil sudah mencapai jutaan ton per tahun, namun upaya sustainability dan circular economy terus berkembang seiring kepedulian berbagai pihak terhadap masa depan industri tekstil yang lebih bersih dan tangguh.
Bagikan
KATEGORI BERITA
BERITA TERBARU
BERITA TERPOPULER
BERITA RELEVAN